Sudah “Sesak”, Kenapa iLotte Baru Masuk Pasar E-Commerce Indonesia

Sudah Sesak, Kenapa iLotte Baru Masuk Pasar E-Commerce Indonesia

Selasa, 10 Oktober 2017 lalu perusahaan konglomerasi asal Indonesia, Salim Group dan Lotte Group asal Korea Selatan sepakat menjalin kerja sama (joint venture) dan resmi meluncurkan situs belanja online iLotte di Indonesia. Layanan e-commerce tersebut berada diatas payung kerjasama dalam naungan PT Indo Lotte Makmur.

Dikutip dari antaranews.com, dalam acara peluncurannya Executive Officer iLotte Philip Lee mengatakan, “iLotte merupakan perusahaan e-commerce yang akan merevolusi cara belanja konsumen Indonesia, sebagai yang pertama menawarkan konsep online mall,”

“Ini adalah momen yang tepat meluncurkan iLotte, karena ekonomi di Indonesia sedang berkembang-berkembangnya,” ujar Lee.

Salim Group sebelumnya diberitakan sudah membeli sebagian besar saham Elevenia yang tengah sakit dan mencoba bangkit. Namun tidak disangka Salim Group malah meresmikan platform e-commerce baru. Grup konglomerat yang membawahi PT Indofood Sukses Makmur nampaknya tidak main-main dalam masuk pasar e-commerce Indonesia.

Berkat kerjasamanya dengan Lotte, mereka mengumumkan besaran investasi yang sangat besar senilai 100 juta Dollar Amerika (senilai Rp1,3 triliun). Namun perlu dicatat investasi besar bukan penentu keberhasilan. Jika iLotte tidak benar-benar menawarkan sesuatu yang berbeda, bukan tidak mungkin konsumen pun tidak tertarik.

Seperti diketahui, pasar e-commerce Indonesia sudah “sesak” dengan pemain-pemain besar. Lazada, MatahariMall, Tokopedia, Bukalapak, BliBli dan yang terbaru JD.id sudah lebih dulu merasakan susahnya menarik perhatian konsumen Indonesia. Bahkan nilai investasi yang mereka bukukan juga bukan jumlah yang kecil. Untuk diketahui, Lazada dan pemain lainnya juga sudah mengeluarkan jumlah investasi yang lebih besar ketimbang yang dibawa iLotte.

Baca juga: Pendiri Kaskus : Aturan Pajak Membuat Bisnis E-Commerce Mati

Lalu, hal apa yang menjadi “sales point” iLotte bagi konsumen Indonesia? Kalau hanya sekedar subsidi dan promosi agresif saja tidak cukup. Jika konsep “online mall” yang jadi andalan, lantas apa bedanya dengan online mall yang sudah ada?

Lazada, BliBli dan MatahariMall bisa dibilang memiliki konsep “online mall” yang sama. Sejumlah merek produk ternama pun berhasil mereka gaet untuk jadi rekan penjual di “lapak” mereka.

Konsep lainnya yang juga dikenalkan oleh iLotte yaitu Flash Delivery, yang memungkinkan barang diterima lebih cepat. Pembeli bisa menerima barang 3 jam setelah pembayaran dikonfirmasi. Namun, lagi-lagi hal ini bisa jadi hanya konsep saja, dan akan sangat susah diimplementasikan.

Untuk kebutuhan pengiriman barang yang cepat, diperlukan integrasi sistem yang sangat kuat dan akurat. Dimana, ketersidaan barang di merchant, sistem pembayaran internal dan sistem jasa layanan antar harus terintegrasi secara sempurna. Kemudian kendala lain adalah kemungkinan fitur flash delivery ini hanya tersedia bagi pembeli yang ada di kota-kota besar saja. Bagaimana nasib bagi para pembeli di daerah lain?

 Penjualan e-Commerce Terhadap Retail Negara ASEAN 2015

Penjualan e-Commerce Terhadap Retail Negara ASEAN 2015 | sumber: KataData

Di luar hal-hal tersebut, pasar e-commerce Indonesia masih cukup menarik bagi pengusaha. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital Asia Tenggara pada 2030 dengan nilai transaksi online mencapai US$ 130 miliar.

Baca Juga: