Strategi Menumbuhkan Kultur Inovasi di Dalam Google

Strategi Menumbuhkan Kultur Inovasi di Dalam Google2

Inovasi adalah keharusan. Ia adalah tolok ukur dari tumbuh kembangnya sebuah  organisasi. Ketiadaannya mendatangkan keterpurukan.

Perkembangan teknologi digital merupakan hal yang paling sering dikaitkan jika sudah membicarakan tentang inovasi. Di Indonesia, misalnya, masalah transportasi umum berbasis teknologi sedang banyak diperbincangkan saat ini. Transportasi umum konvensional seperti taksi BlueBird dan Express dibuat panik lantaran kehilangan pelanggan karena kehadiran Go-Jek, Grab, dan Uber yang dianggap lebih banyak memberi kemudahan dalam pelayanannya.

Keberadaan Google tidak bisa dilepaskan kaitannya dalam hal inovasi digital. Adidaya teknologi ini mempunyai sekitar 1,4 miliar pengguna Android, 1 miliar pengakses YouTube, dan 20 miliar halaman yang diakses setiap hari oleh Google Search.

Google dengan segala inovasinya mampu membuat pengguna internet meninggalkan Yahoo! dalam layanan mesin pencari, meruntuhkan kejayaan Internet Explorer dalam peramban internet, dan mengalihkan penonton televisi ke Youtube. Belum ditambah dengan produk lain Maps, Gmail, Android, Google Playbook, Google Film, Google Book, dan banyak produk lainnya.

Apa rahasia inovasi Google?

Frederik G Pferdt, Head of Innovation and Creativity Google mengatakan bahwa inovasi di Google berawal dari pertanyaan “bagaimana jika (what if)”. Rasa itu cukup ampuh untuk memotivasi setiap anggota organisasi.

Sebagaimana dilaporkan Metrotvnews.com, Frederik mengatakan dalam  wawancara dengan jurnalis dari sejumlah Negara, bahwa kita harus mencoba membuat pertanyaan tentang bagaimana mobil bisa berjalan sendiri, atau bagaimana jika kita bisa memiliki banyak buku di saku kita. Pertanyaan tentang bagaimana tersebut ternyata menciptakan banyak inovasi di Google.

Strategi Menumbuhkan Kultur Inovasi di Dalam Google3

Selain hal tersebut, karyawan Google berinovasi karena timbulnya pernyataan misi(mission statement). Frederik menyarankan untuk membuat misi yang mungkin sulit dicapai sehingga individu dalam organisasi berusaha untuk mendapatkannya.
Ia mengatakan bahwa Google memiliki misi untuk membuat informasi dapat diakses di seluruh dunia. Hal tersebut sangat sulit namun tetap bisa diwujudkan.

Dalam membangun inovasi, membangun tradisi kepercayaan adalah hal yang wajib dilakukan. Frederik menyarankan untuk selalu menerima gagasan, sekonyol apapun itu.
Ia juga menyarankan untuk menerima ide orang lain dan mengembangkannya menjadi lebih baik dan lebih hebat. Kebutuhan pengguna seharusnya menjadi focus dari timbulnya ide dengan tetap melihat  masalah dari sudut pandang pelanggan.Strategi Menumbuhkan Kultur Inovasi di Dalam Google

Frederik sendiri ikut mendirikan sebuah ruang “bermain” yang disebut The Garage (Garasi) di kantor pusat Google di Mountain View, California. Ruangan ini setiap saat menjadi tempat terbuka dalam membuat bagi semua karyawan Google. Di tempat tersebut karyawan Google mempelajari apa ide bisa berjalan baik atau tidak. Frederik menyimpulkan untuk tetap berpikir optimis dan menjelajahi pikiran. Dengan memberi kebebasan kepada orang lain, mereka mampu mewujudkan banyak hal yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Baca Juga: