Uber Tuntut Pesaing Karena Banyak Pesanan Palsu

Uber Tuntut ola

Di era digital ini, keberadaan taksi berbasis online semakin berkembang. Salah satu layanan taksi yang sudah mendunia adalah Uber. Keberadaan mereka sudah merambah Asia, termasuk India. Namun dominasi Uber di India mulai terancam dengan berkembangnya layanan taksi online lain, Ola.

Beberapa waktu lalu Uber sebagai layanan taksi online yang memiliki jarinagn di India menggugat pesaingnya, Ola, secara hukum di negara tersebut. Langkah tersebut dilakukan lantaran banyak ditemukannya pesanan palsu yang ditujukan pada mitra Uber di India yang diyakini sebagai ulah dari layanan taksi Ola.

Uber memberi tuduhan kepada Ola yang dianggap membuat akun palsu untuk memesan taksi milik Uber dan membuat pengemudi Uber merasa frustrasi. Uber mangambil langkah hukum dengan menuduh Ola membuat lebih dari 90 ribu akun palsu yang digunakan untuk menipu pesaingnya.

Akun-akun tersebut disinyalir telah membuat lebih dari 400 ribu pesanan tipuan dalam jangka waktu beberapa bulan belakangan. Uber menuduh Ola dengan membawa bukti, diantaranya data-data yang menunjukkan banyaknya pemesanan taksi Uber tetapi kemudian dibatalkan begitu saja tanpa alasan. Uber merasa bahwa Ola melakukan hal tersebut untuk membuat kacau sistem layanan di dalam tubuh Uber dan memecah belah pengemudi layanan taksi tersebut.

Pihak Ola sendiri langsung merespon tuduhan Uber. Mereka menyatakan bahwa Ola tidak melakukan hal tersebut dan tuduhan Uber merupakan hal yang mengada-ada. Ola justru berdalih bahwa tuduhan Uber hanya untuk mengalihkan perhatian publik lantaran pasar Uber menurun dengan hadirnya Ola.

Tuduhan Uber pada Ola mungkin merupakan balasan dari kejadian beberapa tahun lalu. Tahun 2014, Uber mengalami kasus serupa. Namun pada kejadian sebelumnya, Uber berada di posisi Ola sekarang dan menjadi pihak yang dituntut oleh pesaingnya. Saat itu perusahaan layanan pesaing Uber, Lyft, menggugat Uber secaa hukum lantaran Uber dinilai membuat pesanan palsu yang membuat pihak Lyft kebingungan. Uber saat itu langsung memberi respon atas tuduhan tersebut dengan berbagai sanggahan, dan menganggap tuduhan Lyft mengada-ada.

Layanan taksi Uber sendiri saat ini tengah berada pada puncak kejayaannya sebagai penyedia layanan taksi secara online. Uber sedang berusaha memperluas jaringannya sampai ke Asia. Dan beberapa perusahaan saingan Uber seperti Didi Kuaidi, Lyft, Grab, dan termasuk Ola sedang berusaha membendung pasar Uber lewat layanan mereka.

Keberadaan layanan taksi via online memang memberi kemudahan bagi masyarakat. Seiring meningkatnya minat masyarakat membuat beberapa perusahaan berlomba menyediakan layanan taksi yang sama. Meningkatnya persaingan bisa membuat beberapa pihak berupaya merebut pasar dengan caranya masing-masing. Semoga saja kasus Uber dan Ola tidak terulang kembali baik di India meupun di negara dyang menyediakan layanan taksi online.

Baca Juga: